Cara Membeli Rumah Tanpa Modal


Cara Membeli Rumah Tanpa Modal: ARTI TANPA UANG DALAM PENGERTIAN LEBIH LANJUT

Seperti yang saya lakukan di setiap seminar yang saya adakan, untuk menjelaskan arti tanpa uang dalam pengertian lebih lanjut ini, saya lebih dulu menggambar diagram sebagai berikut:
Saya kemudian mengundang partisipasi peserta dengan pertanyaan, "Apakah kira-kira Anda yang mesti dipatahkan di nomor 1?"
Mereka biasanya mengatakan,"Tanda jadi." Tepat,”jawab saya.
Nah, perlu Anda mengerti bahwa tanda jadi itu berbeda dengan uang muka. Biasanya Uang muka akan diminta sebagai bentuk persentase dari harga properti, misalnya 10%, 20%, atau 30%. Sedangkan tanda jadi biasanya diminta dalam nominal tertentu, misalnya Rp 25 juta, Rp15 juta, Rp 10juta, Rp 5 juta, atau Iebih kecil.
Anggap saja sekarang contohnya adalah Rp 10juta. Jadi, saya menuliskan "TANDA JADI” dan angka ”Rp 10 juta"di bawah nomor 1 sehingga diagram itu akan tampak seperti ini:
 




Beralih ke nomor berikutnya, saya kembali mengajukan pertanyaan seperti sebelumnya,”Apakah yang seharusnya dipatahkan pada item nomor 2?”
"UANG MUKA,"jawab mereka. Anggap saja contohnya adalah sekitar 20%, maka diagram akan terlihat seperti ini:




Karena merasa tahu bahwa saya akan berlanjut ke nomor 3, dengan spontan dan yakin para peserta sudah Iebih dulu mengatakan, "Sisanya mematahkan ANGSURAN, Pak Cip, sekitar 80%!"
Nah, inilah yang saya sebut baru lima menit saja sudah Iupa.Anda masih ingatdengan KABAR BAIK#1,yaitu beli properti tidak perlu menunggu utang, di halaman 12, kan? Supaya kita tidak lupa Iagi, ayo kita perkatakan:

BELI PROPERTI TIDAK PERLU MENUNGGU UTANG. Jadi, isi yang benar di nomor 3 adalah mematahkan PEMBAYARAN SECARA CASH/KONTAN, bukan dengan angsuran/utang.
Dari fakta sebelumnya, tampak bahwa entah sadar atau tidak sadar bila orang ingin membeli suatu properti, maka kata mula-mula yang timbul dalam pikiran orang tersebut adalah UTANG/ANGSURAN. 

Dengan begitu, saya akan memberikan bonus kepada Anda, yaitu bahwa saya juga akan meng-ajarkan bagaimana cara membeli properti dengan mematahkan angsurannya/utang. Saya ingin Anda menjadi pemenang yang mampu mema-tahkan pembayaran secara kontan maupun angsuran/ utang. Jadi, isi nornor 3 adalah kontan dan angsuran.



Dari diagram di atas, sekarang tampak jelas bahwa TANPA UANG dalam pengertian lebih lanjut berarti:
#1. Mematahkan Tanda Jadi
Kebanyakan orang sering kali menyamakan arti "mematahkan tanda jadi" dengan tidak memberi pemiliknya tanda jadi. Hal ini adalah pemahaman yang keliru, karena sesuai kenyataannya saat ini sangatlah sulit menemukan orang yang begitu saja mau menjual properti miliknya tanpa meminta tanda jadi. Bagi mereka, tanda jadi merupakan bukti komitmen calon pembeli properti mereka. Namun, dalam buku ini, saya akan mengajarkan bagaimana cara agar Anda dapat mematahkan tanda jadi dengan tetap nnembayarnya secara kontan tetapi tanpa mengeluarkan uang.

#2. Mematahkan Uang Muka
Sama halnya dalam soal meniadakan tanda jadi, dimana Anda juga tetap diharuskan membayar sejumlah uang muka. Namun, dengan strategi yang akan saya ajarkan di bab lain, Anda akan mengetahui bagaimana cara agar si pemilik yang menjual propertinya tetap bisa menerima pembayaran uang muka secara tunai atau kontan, sementara Anda tidak harus berhutang dan tidak juga mengeluarkan uang.

 #3. Mematahkan Pembayaran Kontan (Angsuran)
Sebelum kita membahas bagaimana mematahkan pembayaran tunai/kontan, apabila Anda bersikeras untuk tetap memilih dalam membeli properti menggunakan angsuran, maka yang harus Anda tiadakan sesungguhnya BUKAN HANYA ANGSURAN BUNGA SAJA 12 - 13 persen, akan  TETAPI ditambah ANGSURAN POKOK yang besarnya 3-4 persen. Dengan demikian nilai total yang seharusnya Anda patahkan adalah 15-17 persen setiap tahun.

Dengan mengetahui hitungan ini, kemungkinan Anda akan berpikir, "Kalau mematahkan nilai angsurannya saja sulit, bagaimana jika mematahkan payment secara kontan." Anda mungkin benar. Namun, dengan mempelajari strategi yang akan saya bagikan nanti, Anda akan mengetahui bahwa apa yang sulit itu bukan berarti tidak bisa. Bahkan Anda yang sudah telanjur mengambil KPR juga dapat melakukan hal ini dan bisa melepaskan diri dari jebakan "lingkaran asap”. Saat ini, Anda mungkin masih bingung dengan penjelasan di atas.

Namun, saya ingin menegaskan bahwa Anda bisa mempraktikkan semua itu jika Anda sudah tahu bagaimana strateginya dan mau menjalankannya. Anda tentu masih ingat bahwa melalui buku ini, saya akan mengantar Anda ke TINGKAT KETUJUH dalam membeli properti.
Arti-nya, Anda akan sanggup membeli banyak propertis, tanpa mengeluarkan uang, bahkan mendapatkan uang, dengan membayar secara cash dan kontan, tanpa berhutang, tidak juga menunggu harganya turun/ sehingga harga mahal pun tidak masalah, plus MENGUNCI RISIKO, tidur pun tidak dikejar utang, menang kalah tetap menang tanpa nnenyakiti orang lain.
Inilah yang akan menjadi kunci sukses Anda dalam mematahkan tanda jadi, uang muka, dan pembayaran kontan (angsuran). Di sini, berlaku hukum tabur-tuai di mana dalam kebaikan terjadi balasan yang berlipat ganda. Anda pasti akan memperoleh manfaat ketika Anda juga memberikan manfaat kepada orang lain.

Apakah Anda sudah siap untuk mempelajari bagaimana strategi konkret untuk mematahkan ketiga hal tersebut? Nah, untuk itu, akan saya tunjukkan dulu TIGA PANTANGAN dalam membayar properti yang Anda beli. Ayo kita pelajari bab berikut ini.

PANTANGAN #1: JANGAN MEMBAYAR PROPERTI DARI HASIL BISNIS ATAU GAJI
Apakah Anda saat ini membayar investasi properti dari hasil bisnis atau gaji? Ini salah. Saya tidak melarang Anda berbisnis. Yang pantang Anda lakukan adalah menjalankan bisnis properti tanpa uang tetapi justru membayar properti dari hasil bisnis. Alasannya, jika Anda melakukan hal ini:
  • ·          Anda hanya siap menang, tetapi tidak siap kalah. Bisnis bisa naik? Bisa, kan? Tapi, bisa turun juga, nggak? Jelas bisa. Nah, sewaktu turun, apakah bisa untuk membayar angsuran properti?
  • ·         Bisnis, meskipun dijalankan oleh pegawai, risikonya tetap ada di tangan kita sebagai pemilik. Banyak orang sudah merasa gagah karena bisnisnya sudah dijalankan oleh pegawai sehingga hasilnya dipakai untuk membayar properti. Ini keliru besar karena Anda bisa terkena dua risiko, yaitu pasar menurun dan dan/atau ditipu oleh pegawai.
Itulah sebabnya kita perlu MENGUNCI RISIKO. Dan ini-lah yang sering dilupakan orang karena terjebak dalam dikotomi antara active income dan passive income yang diajarkan oleh penulis Robert T. Kiyosaki.

Dalam dikotomi tersebut, Kiyosaki mengajak orang untuk berpindah dari kuadran kiri, yaitu active income sebagai E (employee/pegawai) dan S (self-employee/orang yang bekerja sendiri, seperti artis, pengacara, pemilik toko yang menjalankan usahanya sendiri), ke kuadran kanan, yaitu passive income sebagai B (business owner) dan I (investor).
Masalahnya, orang kemudian hanya terpaku pada dikotomi kiri-kanan atau aktif-pasif dan terlalu terkesima pada yang sebelah kanan. Padahal, ada satu hal mendasar yang seharusnya dicermati lebih dulu sebelum mengarahkan perhatian pada dikotomi tersebut, yaitu RISIKO.

Kita harus melihat apakah risiko itu merupakan OPEN RISK ataukah LOCKED RISK. Nah, berkaitan dengan pantangan membayar properti dari hasil bisnis, saya akan menjelaskan kedua kondisi risiko tersebut dengan contoh empat orang yang membuka usaha di tepi jalan strategis yang sama.



Sumber: Cipto Junaedy (Strategi Membeli Banyak Properti Tanpa Uang Tanpa KPR)