Strategi Bisnis Properti: STRATEGI #29: AUCTION HOUSE



Anda tadi sudah memahami bagaimana perusahaan billboard bekerja: mereka bekerja untuk mencaplok spot. Namun, sekarang Anda sudah lebih mahir dari- pada mereka, yakni mencaplok spot sekaligus propertinya.
Anda sudah tahu bagaimana mendapatkan "Iaba tersembunyi"dari kebutuhan billboard. Dalam prakteknya, ternyata yang mempunyai "Iaba tersembunyi” bukan hanya perusahaan billboard.
Di Iuar itu, temyata toko elektronik yang canggih juga punya “Iaba tersembunyi” Anda mau tahu? Ayo kita bongkar rahasianya bersama-sama.

Toko elektronik pasti antara Iain menjual pesawat televisi dari berbagai merek. Nah, kalau toko kita terletak di Iokasi terbaik. menurut Anda kira-kira perusahaan produsen pesawat televisi yang mencari kita ataukah kita yang mencari mereka?
Sudah pasti merekalah yang mencari kita, Salesman dari perusahaan-perusahaan tersebut akan mendatangi kita dan menyanyakan,"Pak, apakah kami diijinkan titip produk kami di toko Bapak?"
Anda pasti serta merta menjawab, "Boleh!" Namun, kata “boIeh" di sini tentu bukan berarti tanpa syarat.

Perusahaan produsen pesawat televisi itu harus punya komitmen. Komitmen berarti janji, dan janji berarti uang, bukan utang.
Lalu, bagaimana strategi memanfaatkan kenyataan ini untuk membeli properti tanpa uang, tanpa utang, dan membayamya secara kontan?
Begini, katakanlah harga ruko yang ingin kita miliki adalah Rp 3 miliar. Oleh karena itu, kita perlu membuat 10 paket penawaran yang masing-masing bemilai Rp 300 juta. Dan setiap produsen pesawat televisi boleh mengambil lebih dari satu paket.

“Apa isi paket penawaran itu, Pak?" Pertanyaan ini akan saya terangkan nanti. Dan sebelum itu, saya akan bertanya dulu, "Apakah menurut Anda, dasar yang dipakai transaksi dari paket penawaran itu?"
Anda mungkin akan dengan gampang menjawab, "Sewa”. Kalau itu jawaban Anda, Anda salah, Anda masih ingat berapa nilai sewa sebuah ruko?

Tujuh persen dari harga jual ruko, bukan? Jika toko elektronik Anda yang senilai Rp 3 miliar disewakan, itu berarti Anda hanya akan mendapat Rp 210juta.
"Wah, kalau cerdas, perusahaan produsen pasti Iebih memilih menyewa ruko itu bersama merek-merek lain dong, Pak? Dengan begitu, mereka tidak memerlukan kita. Mereka akan menyewanya bersama-sama”

Nah, di sini Anda harus kritis. Mereka sudah pasti berkompetisi satu sama lain, maka mereka tidak mungkin menyewa ruko bersama-sama. Inilah yang justru menguntungkan kita dan bisa kita manfaatkan.
Pertanyaannya, Anda bisa memanfaatkan situasi ini dalam wujud apa? "Billboard?"
"Salah. Di satu toko, masuk ada banyak billboard. Jelas tidak mungkin, bukan?"
“Konsinyasi?" "Salah”
“Bagi hasil?" ”Salah”
"Aduh, saya nggak tahu jawabannya, Pak. Langsung Bapak jawab saja, deh”. Baik.jawabannya: Anda memanfaatkan dua hal sekaligus.

Yang pertama adalah display yang masing-masing Anda tawarkan katakanlah pada harga Rp 50 juta. Nah, di sini, display bukan kata kuncinya, melainkan hal yang kedua, yaitu LABA YANG DITARIK DI DEPAN ATAS KONTRAK DAGANG (dalam contoh ini, anggap saja kontrak dagang dibuat untuk dua tahun).
Jadi, paket penawaran yang masing-masing senilai Rp 300 juta tadi sebetulnya adalah paket kontrak dagang (plus kontrak display), bukan paket kontrak ruko.

Dikurangi nilai kontrak display (Rp 50 juta), paket kontrak dagang tersebut bemilai Rp 250 juta. Artinya, dalam dua tahun, kita harus menjual, misalnya, produk merek A sampai mendapatkan laba Rp 250 juta. Untuk hitungan mudahnya, anggap saja laba dari penjualan satu televisi ukuran besar adalah Rp 500 ribu.

Maka, untuk mendapatkan laba Rp 250 juta selama dua tahun, kita harus menjual 500 unit televisi. Kalau bisnis kita indah dan kita bisa menjual 750 unit, kita akan mendapatkan uang Iebih (di luar Rp 250juta-laba yang ditarik di depan) sebesar: (750-500) x Rp 500 ribu = Rp 125 juta.
Namun, bagaimana kalau yang terjadi adalah sebaliknya dan kita hanya bisa menjual 300 unit? Angka tersebut jelas di bawah 500 unit. Laba yang kita capai pun hanya Rp 150 juta, padahal kita sudah telanjur menerima Rp 250 juta. Itu berarti ada selisih sébesar Rp 100juta. Nah, apakah uang Rp 100juta itu harus kita kembalikan kepada perusahaan produsen yang bersangkutan?

Tidak perlu. Kenapa? Uang itu bisa diperhitungkan untuk tahun berikutnya. Nah,jika Anda bisa menawarkan 10 paket ini, Anda akan mendapatkan uang 10 x Rp 300 juta = Rp 3 miliar.
Kalau sudah begini, apakah Anda perlu membayar ruko yang Anda inginkan itu dengan utang? Perlu mengambil KPR? Perlu "menggoreng" rekening? Tidak perlu, bukan?

 ANDA BISA MEMBAYARNYA DENGAN KONTAN.

Uang dari perusahaan-perusahaan produsen yang mengambil paket kontrak dagang itu bisa Anda gunakan untuk pembayaran kepada pemilik ruko.
Alhasil, dengan strategi auction house ini, Anda bisa mencapai tingkat ketujuh yang saya kemukakan di bab terdahulu, yaitu: membeli banyak properti tanpa keluar uang, justru mendapatkan uang, dengan membayarkan secara kontan, tidak pakai utang, tidak juga menunggu harganya miring sehingga harga mahal pun tidak masalah.

Dan, tidak hanya itu, tidur Anda tenang dan pikiran pun damai. Inilah yang mahal. Seru? Sekarang saya akan membagikan strategi bagaimana mengunci risikonya.
Tadi Anda mengatakan bahwa ada kemungkinan perusahaan produsen menyewa sendiri ruko itu. Hal ini bisa terjadi kalau Anda belum membuat ikatan dengan pemilik propertinya. Namun, Anda sudah tahu bagaimana strategi mengikat pemilik properti yang saya terangkan sebelumnya, bukan?

Dengan demikian, kartu As sudah ada di tangan kita. Dan dari sini Anda juga bisa sekaligus menyadari bahwa Anda harus rajin-rajin membeli properti tanpa utang.
Persoalan yang kedua, bagaimana kalau salah satu dari perusahaan produsen itu membayar kontrak dagang dengan BG mundur karena kontrak itu berlaku selama dua tahun? ltu berarti, uang yang Anda terima di depan berkurang, bukan? Ini masalah kecil.

Anda bisa membuat BG itu cair. Bagaimana caranya, Pak? Inilah salah satu cara mengunci risiko yang akan saya bagikan kepada Anda melalui seminar Strategi Membeli Banyak Properti tanpaUang, tanpa KPR, dan tanpa Menunggu Harga Miring“".
"Baik, Pak. Sekarang saya sudah mengerti bagaimana membeli banyak properti tanpa modal dan tanpa uang, membelinya secara kontan, dan tanpa utang. Tapi, saya masih penasaran dengan strategi #2 (strategic media spot) karena kita membayamya masih dengan angsuran.

Lho? Bukankah itu adalah permintaan Anda sendiri? Masih ingat? Namun, baiklah, sekarang saya akan mengajarkan bagaimana strategi #2 dibuat sedemikian rupa agar kita membayar properti yang kita inginkan tidak dengan menggunakan angsuran, melainkan secara kontan. Mau? Ayo kita simak strategi berikut ini.
Sumber: Cipto Junaedy (Strategi Membeli Banyak Properti Tanpa Uang Tanpa KPR)