Bagaimana
Tips membeli properti agar Anda dapat membayar investasi properti dengan cara yang aman..
PANTANGAN
#2: JANGAN MEMBAYAR PROPERTI DARI HASIL SEWA SAJA
"Lho,
kenapa tidak boleh, Pak? ltu kan menguntungkan''. Saya tidak melarang Anda
menyewakan property Anda. Yang pantang untuk dilakukan adalah menjadikan uang sevva
sebagai satu-satunya sumber pembayaran properti Anda.
Sebab, hasilnya
tidak cukup. Anda jangan terjebak dengan cara berpikir mereka yang tinggal di Amerika.
Di negeri Paman Sam itu, nilai sewa properti Iebih besar daripada tingkat suku
bunga KPR.
Sedangkan di
Indonesia, sebaliknya. Suku bunga KPR di Indonesia berkisar 12-14 persen per
tahun. Ditambah dengan angsuran pokoknya, Anda harus menyicil 15-17 persen per tahun. Sementara itu, persentase nilai sewa berkisar 3-5 persen
dari nilai properti untuk properti residensial atau 5-7 persen untuk properti
komersial.
Jadi, hasil sewa sekecil itu tidak mungkin mematahkan angsuran 17 persen
per tahun, bukan? Dengan hitung-hitungan yang sejelas ini pun, masih banyakorang
yang salah berpikir bahwa angsuran dapat dibayar dari hasil menyewakan properti
kepada orang asing. Oleh karena itu, kita banyak membaca iklan baris di surat
kabar dengan tajuk ”RENT FOR FOREIGNER".
Kalaupun ada orang asing yang mau menyevva dengan harga tinggi, itu pun belum
cukup. Apalagi, bila telah berkenalan dengan orang di Indonesia, orang asing
itu akan tahu bahwa harga sewanya kemahalan.
Jadi, kesimpulannya, mengandalkan hasil sewa properti saja untuk membayar
properti Anda tidaklah memadai Anda belum mengunci risiko sepenuhnya.
PANTANGAN #3: JANGAN MEMBAYAR PROPERTI DARI HASIL KOS, WARNET WARTEL, TEMPAT UNTUK BTS (BASE TRANSCEIVER STATION), SARANG BURUNG WALET, DAN BISNIS YANG DIANGGAP SEBAGAI SUMBER PASSIVE INCOME SEJENISNYA
Semua bisnis yang disebutkan di atas memang merupakan sumber passive
income, tetapi tetap menjadi pantangan untuk membayar properti. Sebab, tidak
mengunci risiko. Jika pantangan ini Anda langgar, itu berarti Anda Iagi-Iagi cuma
siap menang, akan tetapi Anda tidak mengaku siap kalah.
Misalnya, rumah kos tidak bisa kita pastikan seluruh atau sebagian besar
kamarnya terisi sepanjang tahun. Bisnis warnet dan wartel pun setali tiga uang.
"LaIu, bagaimana dengan BTS dan bisnis burung walet, Pak?" Ini
juga tidak mengunci risiko Anda karena penyewa BTS relatif sedikit, sedangkan
yang menawarkan lokasi sewa banyak sehingga posisi tawar Anda lemah.
Sedangkan jika bisnis burung walet Anda andalkan untuk membayar properti,
ceritanya saja yang indah, tetapi risikonya tidak bisa Anda jamin terkunci
sepenuhnya.
Apalagi, saat ini telah ditemukan banyak alat pemanggil sehingga burung
walet yang berada di properti Anda bisa berpindah ke tempat lain sebelum
memberikan hasil kepada Anda.
Sekarang, Anda sudah paham mengapa saya perlu menyampaikan tiga pantangan
di atas, bukan? Inti dari penjelasan di atas adalah bahwa Anda harus selalu
MENGUNCI RISIKO dalam membeli properti.
Hal ini akan semakin jelas dalam berbagai strategi yang akan saya uraikan
dalam bab berikut nya. Anda siap?

