Beli Properti Tanpa Uang: Strategi Tax Trigger



Beli PropertiTanpa Uang: Strategi Tax Trigger

Strategi ini biasanya cukup 'ganas' dan ”ditelan" oleh penjual karena sungguh menguntungkan dirinya. Coba kita Iihat seberapa menguntungkannya tawaran Anda kepada penjual.
Saat menabung di bank, kita akan mendapatkan ongkos tunggu yang disebut bunga. Begitu pula halnya ketika kita meminta waktu dua bulan kepada penjual, kita seharusnya tahu diri dan memberi ongkos tunggu.

Ketika buku ini ditulis, suku bunga deposito bruto adalah 6 persen atau nettonya 4,8 persen per tahun atau 0,4 persen per bulan. Jadi, karena tadi Anda meminta waktu dua bulan, mestinya Anda cukup memberi 0,8 persen.
Nah, sekarang Anda malah memberi 5 persen, atau naik Iebih dari 600 persen. Ini jelas menguntungkan buat penjual. Bagaimana pun properti yang dia jual belum tentu Iaku, tetapi kalau pun Iaku belum tentu ada orang yang mau membayar pajaknya.

Nah, bagaimana kalau dia tidak mau meskipun pajaknya akan Anda yang tanggung? Maka tambahkan saja ”permen" Anda, yaitu dengan menanggung semua biaya notarisnya. “Nah jika tetap nggak mau, lantas bagaimana?” Ya sudah, pukulin saja orangnya, hehe .... Tetapi maksudnya, bahwa Anda juga tidak bisa memaksakan semuanya.
Carilah yang Iain.

Namun, apakah banyak yang mau? Coba kita Iihat pandangan klasik yang diterapkan oleh broker bisnis properti. Biasanya mereka membuat sebuah surat perjanjian eksklusif dengan penjual untuk memasarkan propertinya selama tiga bulan.

Jika sampai tiga bulan propertinya ternyata tidak Iaku, apakah dia akan marah-marah kepada broker properti tersebut? Tentu saja tidak. Perjanjian tersebut akan gugur dengan sendirinya. Dan kalau Iaku, penjual harus membayar komisi. Itu saja banyak yang mau.
Dari padanan ini, Anda tahu bahwa properti milik penjual yang Anda minta menunggu selama dua bulan pun"seolah-olah belum pasti akan laku”. Tetapi, bedanya, bahwa mereka justru mendapat komisi, bukan membayar komisi. Bahkan jumlah komisinya banyak, yakni semua biaya transaksi.

Saya tidak sedang mengajarkan Anda untuk menyaingi atau menjadi broker properti. Anda Iebih tinggi posisinya. Broker memang penting. Namun, broker itu tunjuk, menjualkan, dan dapat komisi. Sedangkan Anda adalah investor yang tinggal tunjuk, beli, ambil, dan memiliki. Anda adalah investor.

Dengan demikian, penjual yang mau dengan tawaran Anda banyak. Hanya saja, Anda tentu perlu melakukan negosiasi. Kalau penjualnya sudah mau, tentu saja kita harus mengikatnya dengan surat perjanjian, yaitu PPJB.
Dengan ditandatanganinya surat perjanjian tersebut, tanda jadi dan uang muka tentu patah, bukan? Jadi, tiga hal yang harus kita patahkan, yakni tanda jadi, uang muka, dan angsuran, sudah patah semua, sama halnya dengan membeli rumah tanpa uang. Seru, bukan?

"Pak Cipto, saya sekarang sudah paham. Tapi tolong dijelaskan dengan Iebih mendetail kenapa ketiga hal itu bisa patah?"
Begitu Anda selesai menandatangani PPJB, pagi harinya Anda langsung mengirim surat penawaran kompetisi. Setelah itu, tentu ada perusahaan iklan atau perusahaan user yang mau.
Kita langsung bisa meminta tanda jadi. Nah, tanda jadi itu kita oper ke penjual. Kalau Anda menggunakan cicilan KPR (BTN), bank akan membayar lunas properti itu kepada penjual. Nah. urusan dengan penjual selesai, sedangkan urusan dengan bank bisa Anda atasi dengan empat sumber penghasilan yang sudah dijelaskan di atas. Jadi, Anda tidur pun, properti itu terbayar, bukan? Ini berarti Anda telah mengunci risiko.
Sumber: Cipto Junaedy (Strategi Membeli Banyak Properti Tanpa Uang Tanpa KPR)